4217846

4217846

Sabtu, 26 Januari 2019

 

                 

                       Sidoarjo, 26 Januari 2019       

          Masih terngiang dalam ingatan. Tak terasa, satu bulan sudah aku berada di Kota Delta ini. Meski terkadang, kusempatkan untuk menjenguk kampung halaman tiap dua minggunya. Bukan tanpa alasan, aku ada disini sekarang. Mengabdi pada negara dalam usia yang belum genap berkepala dua. Sekarang disini, mau tak mau aku juga harus bisa beradaptasi. Juga menerima dengan lapang dada, walaupun aku tak mendapat sekantor penempatan dengannya.
          Sebulan sebelum menginjakkan kaki di Kota Delta, tepatnya di penghujung tahun 2018 ku kemarin. Kusempatkan untuk berkunjung dan berpamitan pada ibukota tercinta, Jakarta. Kota tempat persinggahan kereta api-ku selama menempuh pendidikan 1 tahun disana. Jakarta Pusat tepatnya, dan di St. Pasar Senen namanya. Tempat sakral bagiku untuk menabung rindu pada kampung halaman yang lama tak kunjung temu. Eeaaa,, wkwkw... Baiklah, lupakan soal kereta, aku akan kembali menceritakan perihal apa aku berkunjung disana.
          Dalam sejarahku mengenai musabab apa aku ada disini sekarang. Dimulai dari perjalananku ke kota metropolitan, tepatnya di Rawamangun, Jakarta Timur. Jakarta Timur, yang orang bilang paling kental adat Betawi nya dibanding daerah ibukota yang lain. Dengan Rawamangun yang dikenal orang sebagai bumi Bea Cukai bertempat. Baiklah, agar engkau lebih mengenal tempatnya, biar aku tunjukkan. Sekiranya engkau naik kereta melewati St. Jatinegara, cobalah kau tengok sebelah timur. Disana (read : Rawamangun) akan terlihat sebuah Gedung menjulang dengan gagahnya. Yass, itulah Gedung Kalimantan Kantor Pusat DJBC berada. Layaknya sebuah bangunan yang menegaskan Bea Cukai akan selalu berjaya di masanya. Dan tempat itulah, perihal tujuanku bermula. Tentang sebuah waktu yang akan terus dikenang sebagai sebuah temu angkatan terakhir, sebelum laut dan zona waktu yang memisahkan. Eaaa, wkwkw..

          Orientasi instansi di Kantor Pusat DJBC yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu tersebut, menyisakan kenangan mendalam hingga sekarang. Perihal kisah ke-lima belasanku dan kawan-kawan di rumah dinas A1. Perihal warteg Beni dengan harga yang terkadang tak sesuai aturan. Perihal ayam geprek Sabana yang menjadi idola saat kumpul kelompok dilaksanakan. Perihal burjo legendaris depan Pusdiklat, juga nagasari nangka-nya yang memikat. Hmmm.

          Juga, akhirnya orientasi di Kantor Pusat pun berakhir. Dan, bila kau bertanya, apakah yang paling menyebalkan dari sebuah ketidakpastian? Yeah, benar. Menunggu. Menunggu sesuatu yang belum pasti itu sangat membosankan. Menunggu sesuatu yang sudah dijanjikan, yang berakhir  nihil. Eits tunggu, kenapa jadi curhat begini? Hahaha.  Baiklah, ini sebenarnya adalah cerita penantian sebuah masa depan.  Penantian dibumi Indonesia mana kami akan mengabdi.  Jadilah saat itu, dalam rangka mengisi kegabutan kami menjelang orientasi berikutnya. Pekerjaan terbaru yang mengisi kegabutan kami adalah... “Menunggu Pengumuman Penempatan”

          Hari-hari yang bermanfaat kala itu. Wkwkwk. Hari-hari menunggu dengan penuh harap, dengan diselingi doa yang tak kunjung henti. Meski telah tercantum dalam surat pernyataan bermaterai kala itu, bahwa kami siap ditempatkan dimana saja. Tapi tidaklah menutup kemungkinan, mengabdi di homebase adalah keinginan hati kecil kami kala itu. Hingga ahirnya semua harapan dan penantian itu terjawab,tepatnya sehari setelah orientasi kementerian dilaksanakan. Tepat tanggal 18 Desember 2018, dihari nan elok itu pada pukul 10.30 WIB. Sebuah file pdf berukuran 20 MB menjawab rasa penasaran kami, sang bea cukai muda yang siap mengabdi, dari ujung Sabang sampai Merauke. Dari ujung Miangas sampai Pulau Rote.

          Lalu, bagaimana denganku saat itu? Langsung ku-download pengumuman itu dengan hati kacau berdebar-debar tak karuan. Bibir yang menggerutu sambil lekas berharap. Dan entahlah, saat itu, langsung terlintas wajah kedua orangtua dibenakku, kekhawatiran mereka, doa dan harapan mereka padaku, anak sulungnya. Terlintas tiket pesawat melonjak tinggi dengan harga gila-gilaan di penghujung tahun seperti ini.    Juga, terlintas wajahnya, seseorang yang telah menjadi alasan, aku ada disini sekarang.

          Yess, setelah sekian menit pengumuman itu berhasil terdownload. Kutelusuri namaku satu persatu. Aku masih positif thinking saat itu. Maka kutujukan pandanganku pada baris pengumuman di Kantor eselon II di wilayahku, Jawa Timur. Kulihat satu persatu, ah ternyata.. namaku terpajang diatas, dibaris kantor eselon II itu.  
Deg.  Langsung aku mengingat dirinya. Hmmm,, otakku masih loading saat itu, hingga akhirnya aku tersadar, aku belum diberikan kesempatan untuk sekantor dengannya. Baiklah, aku mulai menata hati, dan tak lupa harus sangat bersyukur. Kucoba telusuri lagi, siapa saja gerangan yang telah telah beruntung mendapat penempatan sekantor dengannya. Hmm,, ada 12 orang ternyata. Lumayan banyak. Meski aku bukan salah satunya, hehehe..

          Dalam kekacauan mencari nama juga tempat pengabdian kala itu, kami kelima-belasan telah membuat rumah dinas A1 layaknya pasar ayam.  Semua berteriak terkejut. Agak terkejut. Senang. Agak kecewa. Sangat bersyukur. Dan inilah yang paling banyak. Mengabari kedua orangtua. Begitupun aku. Grup kelas pun mendadak ramai setelah sekian lama menyepi. Grup orientasi dengan banyaknya ucapan selamat dan semangat mengabdi. Teman-temanku ramai mengucapkan selamat padaku. Tak terkecuali dia, yang kali pertama mengucapkannya.
“Nggak apa-apa. Meleset sedikit, kan masih dalam kota yang sama”.
Ucapannya yang membuatku sedikit tenang. Terimakasih.

          Dan juga apabila kalian bertanya, perihal apakah yang paling kubenci?  Maka tak ada lagi jawabnya, melainkan “sebuah perpisahan”. Malamnya, setelah pengumuman itu, satu persatu kawan ke-lima belasanku pulang. Melepas rindu pada kampung halaman sebelum akhirnya pergi untuk mengabdi. Pergi untuk kembali. Menemui kedua orangtua sebelum akhirnya kembali untuk ibu pertiwi.
Tangis haru tak terbendung kala aku dan kawanku, Zuhro, mengantarkan satu persatu dari mereka untuk “pulang”. Dan di gerbang hijau rumah dinas A1 itu semua akan berakhir.
“Jangan lupakan kami, yaa.. Sukses di tempat pengabdian. Salam untuk keluarga kalian di rumah”. Selalu itu yang diucapkan. Kalimat singkat yang cukup menggambarkan kebersamaan kami, ke-lima belasan di rumah dinas A1. Hingga akhirnya, lambaian tangan mereka satu persatu hilang ... ditelan jalan.

        Tiba waktuku untuk pulang. Dan barulah kali ini aku merasakan, pulang ke kampung terasa sangat berat dan enggan. Padahal biasanya, akulah yang paling semangat untuk pulang. Paling semangat membeli tiket balik lebaran. Paling semangat pergi ke stasiun, meskipun keretanya masih akan berangkat 7 jam lagi. Tapi sungguh, pertemuan terakhir itu sangat berkesan.

           Aku dan Iyin, pun berpamitan. Pada Zuhro, kulihat matanya sembab, enggan menatap. Aku tau apa yang dia rasakan. Berat hati pasti. 20 hari bersama yang akan terpisah mungkin 2 tahun lamanya.  Maka, semoga kita dapat bertemu di D3K. Aaamiin.
Kurasakan jabat tangan dan peluk ini semakin berat. Enggan untuk pergi, tapi harus memaksakan diri. Sore yang semakin sendu di Rawamangun kala itu.  Ditambah hujan gerimis yang semakin menegaskan tentang arti sebuah pertemuan. Kulambaikan tanganku pada mereka. Hati-hati yaa, kalian disana. Dan baiklah, sekarang kita jadi semakin berjarak.
          Selamat tinggal Jakarta-ku. Usai sudah aku berpamitan denganmu. Terimakasih telah menjadi persinggahan kereta-ku selama aku menuntut ilmu. Terimakasih telah mengajari banyak hal. Tentang arti sebuah pertemuan. Tentang arti sebuah kebersamaan. Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi suatu hari nanti, dalam gelak tawa kebersamaan. Izinkanlah aku untuk pergi kali ini. Mengabdi pada ibu pertiwi. Demi kejayaanmu,  juga untuk negeri zamrud khatulistiwa ini.

          Dalam jendela kereta, yang perlahan menciptakan jarak antara kita, kutatap senja, yang masih selalu begitu, seperti menjanjikan perpisahan yang sendu.
      Sidoarjo, dengan luapan banjir lumpurnya. Dalam deru pesawat yang terus melaju setiap menitnya. Coretan tentang kisah Laskar   Ke-Lima belasan ini memang tak mampu menandingi agungnya Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Namun semoga tetap jadi pengingat, bahwa  semua cerita diatas pernah terjadi dengan sebegitu indahnya.


 Satu bulan sudah berlalu, maka semoga Malang akan menjadi kisah selanjutnya bagiku.

Dalam kegabutan menunggu pengumuman latsar, Januari 2019

                                                                                                                                                                                                               SHMILY  FAFA

                                            Sidoarjo, 26 Januari 2019                  Masih terngiang dalam ingatan. Tak t...